RENUNGAN HARIAN

Belakangan ini kita melihat satu fenomena ketika seseorang melakukan kesalahan sangat jarang terdengar kata maaf terucap dari bibirnya. Yang ada hanya ribuan kata pembelaan diri, mengelak bertanggungjawab. Berbagai argumentasi diutarakan untuk tidak mengakui kesalahan.

Parahnya lagi hal itu dipertontonkan secara blak-blakan mulai dari televisi sampai media sosial seperti twitter, facebook hingga instagram. Pelakunya beragam mulai dari pejabat yang tertangkap terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sampai dengan rakyat biasa. Sayangnya, hal ini juga menyasar para keluarga.

Tidak sedikit keluarga zaman now terkoyak karena akibat kondisi itu. Hubungan sesama anggota keluarga menjadi rusak berantakan; luluh-lantah hanya karena masing-masing membela diri. Seolah mengakui kesalahan dan meminta maaf telah menjadi satu kelemahan. Apakah memang benar demikian?

Saya bertemu dengan seorang perempuan. Sebut saja Jane, Dia memiliki pengalaman buruk dengan papanya. Ia bercerita satu kali pernah melakukan kesalahan yang sudah sering diingatkan orangtuanya untuk tidak dilakukan. Akibatnya, papa sangat marah dan menghukumnya dengan keras.

Jane kaget karena tidak pernah melihat papa marah seperti itu. Dia kecewa. Hatinya pun terkoyak dan ujung-ujungnya terluka! Tapi beberapa waktu kemudian papanya melakukan satu hal yang tidak pernah diduganya. Papa memanggilnya dan berkata:

Jane., maafkan Papa ya… Papa sudah menghukum kamu dengan keras. Papa minta maaf…”,

Papa memeluk Jane dan mendoakannya. Hati Jane luluh, rasa kecewa dan lukanya dipulihkan. Hubungannya dengan sang papa dipulihkan dan kini semakin kuat. Setitik air terlihat menggenang di sudut mata Jane ketika mengingat peristiwa itu.

Setiap perbuatan atau perkataan seseorang pasti memiliki dampak yang baik atau buruk bagi orang lain. Karena itu, mengakui kesalahan dan meminta maaf merupakan satu bentuk pertanggungjawaban atas suatu kesalahan yang diperbuat.

Alkitab menuliskan bahwa ada hal yang luar biasa terjadi ketika seseorang mengakui kesalahan atau dosanya kepada TUHAN. Akan terjadi pemulihan hubungan dengan TUHAN karena DIA mengampuni dan menyucikan orang itu:

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1Yoh 1:9 (TB)

Demikian juga halnya ketika seseorang mengakui kesalahannya kepada orang lain. Hal yang sama terjadi ketika sesama anggota keluarga saling mengakui kesalahan dan mendoakan. Firman TUHAN menuliskan maka akan terjadi pemulihan atau kesembuhan di antara mereka, seperti ada tertulis:

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh…” Yak 5:16a

Setiap anggota keluarga akan meniru setiap perbuatan atau perkataan orangtua yang adalah kepala keluarga. Jika kepala keluarga hidup dalam takut akan TUHAN maka seluruh anggota keluarga pun akan menirunya. Demikian juga sebaliknya.

Adalah sulit mengharapkan suatu pemulihan hubungan terjadi dalam satu keluarga jika orangtua atau kepala keluarga bertindak pasif, tidak memberi contoh nyata dan sibuk membela diri.

Jika kepala keluarga memberi contoh mengambil tanggungjawab dalam “mengakui kesalahan dan meminta maaf” maka dengan cepat anggota keluarga yang lain akan melakukan hal yang sama. Dengan demikian pemulihan dan kesembuhan terjadi dalam keluarga itu. Haleluya!

Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya…” Mal 4:6 (TB)

Kiranya Tuhan Yesus yang adalah sumber pemulihan sejati menjamah dan memulihkan setiap kita, amin…