Imamat 22:17-21
Di dalam Hukum Taurat, Tuhan memberikan peraturan-peraturan yang ketat kepada orang Yahudi mengenai hewan persembahan. Setiap hewan yang akan dipersembahkan haruslah tidak bercacat, atau Dia tidak akan menerimanya – sesungguhnya, ketika bangsa Israel mempersembahkan binatang yang buta, timpang dan sakit, Tuhan dengan murka meminta pertanggung jawaban mereka (Maleakhi 1:8).
Cara menumpahkan darah untuk menghapus dosa itu melambangkan rencana penebusan terbesar Bapa: Dia menyerahkan Anak-Nya untuk mati menggantikan manusia berdosa (Yohanes 3:16). Agar dapat menjadi korban persembahan yang dapat diterima, Anak-Nya juga harus sempurna, dan hanya anggota Trinitas yang dapat tetap tidak berdosa dalam kehidupan di bumi ini.
Tetapi keilahian tidak bisa diberikan kepada seorang anak manusia pada saat dilahirkan. Anak Domba yang dikorbankan itu haruslah Tuhan dan juga manusia sejak dalam kandungan. Karena itu, Yesus dikandung oleh Roh Kudus dan masuk ke dalam rahim Maria dari surga tanpa campur tangan manusia. Tidak seperti semua anak yang lahir dari hubungan laki-laki dan perempaun, Yesus berasal dari Roh Kudus, dan tidak tersentuh oleh dosa asal Adam sebagai manusia.
Keselamatan kita bergantung pada keadaan Yesus yang tidak bercacat karena, sebagaimana penjelasan Tuhan kepada bangsa Israel, hanya korban yang sempurna yang memenuhi syarat. Yesus adalah Anak Domba yang sempurna dan tak bercacat dalam segala hal, dan itu sebabnya Bapa menerima pengorbanan Kristus. Cara kita menerima pengorbanan yang dilakukan bagi kita adalah dengan percaya kepada-Nya.
Apakah Anda percaya bahwa tuntutan keadilan Tuhan sudah dipenuhi melalui kematian Yesus? Apakah Anda percaya bahwa kematian-Nya membebaskan Anda dari hukuman dosa yang pantas Anda terima? Jika Anda masih ragu, ambillah kesempatan untuk merenungkan pengorbanan Tuhan, dan mintalah Tuhan membimbing hati Anda.