Kisah Para Rasul 7:54-60
Saya bertanya-tanya, apakah Paulus teringat saat pembunuhan Stefanus ketika ia membela dirinya di pengadilan Romawi. Meskipun para sahabat, murid-murid dan orang-orang yang menjadi percaya melalui rasul itu tidak muncul untuk mendukungnya, Paulus tidak ingin Bapa surgawi menghukum mereka (2 Timotius 4:16). Paulus justru menaikkan doa pengampunan, sama seperti Stefanus yang mengampuni semua orang yang melemparinya dengan batu sampai mati.
Orang percaya perlu menerima bahwa pengampunan adalah respons yang tepat ketika orang lain melukai kita. Kasih karunia itu bukan hanya belas kasihan Tuhan pada kita, tetapi juga belas kasihan-Nya yang mengalir melalui kita. Mengampuni orang lain adalah salah satu aspek untuk menjadi makin seperti Kristus – menyimpan dendam tidak cocok untuk kita yang sudah diselamatkan dan menjadi manusia baru yang dipimpin Roh.
Lagipula, kita harus ingat bahwa Yesus Kristus juga sudah membayar utang dosa orang-orang yang menyakiti kita, entah mereka menerima anugerah-Nya yang diberikan cuma-cuma itu atau tidak. Meskipun memang, tidak ada yang berkata bahwa mengampuni orang yang bersalah itu merupakan hal yang mudah. Orang tertentu melakukan kejahatan yang begitu mengerikan pada orang lain sampai mereka tampaknya tak layak diampuni. Tetapi perlu dimengerti bahwa menunjukkan kemurahan jauh lebih baik dari hidup dengan alternatif lainnya: Kepahitan, dendam dan kemarahan dapat menggerogoti roh kita sampai menghancurkan maksud baik, merusak kesehatan dan mengacaukan pikiran.
Roh Kudus akan menolong kita untuk mengampuni. Dia dengan lembut akan mengambil luka, pengkhianatan dan amarah dari hati kita – dan mengisinya kembali dengan kemurahan. Hanya ketika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, kita dapat berkata seperti Stefanus, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Para Rasul 7:60).