1 Raja-raja 18:36-40

Dalam budaya Kristen saat ini, iman seringkali hanya dianggap sebagai hal yang memengaruhi pemiliknya saja. Karena kecintaan kita pada kemandirian dan pengandalan diri, kita sering kehilangan rasa kebersamaan dan penjangkauan yang seharusnya diwujudkan gereja. Kita hidup seperti pulau-pulau kecil di dalam “relasi pribadi dengan Kristus” masing-masing, padahal Tuhan mau iman kita berdampak bagi orang lain, di dalam maupun di luar gereja.

Iman Elia memengaruhi seluruh bangsa Israel. Dengan memercayai dan menyampaikan pesan Tuhan, ia menjadi teladan bagi mereka dalam perkataan maupun perbuatan. Ketika ia meminta Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Yang Maha Kuasa, api turun dari langit dan bangsa itu pun percaya.

Tujuan nabi Elisa dalam pertunjukan adu kekuatan di gunung Karmel itu adalah untuk mengembalikan bangsanya kepada Tuhan. Kita biasanya berpikir “berbagi iman” itu kepada orang yang belum mengenal Kristus, padahal kepercayaan kita kepada Tuhan juga dapat menguatkan orang percaya yang sedang lemah atau tersesat. Demikian pula, orang-orang yang kuat imannya dapat menguatkan kita ketika kita sedang bergumul dengan keraguan.

Gereja digambarkan sebagai satu tubuh dengan bagian-bagian yang semuanya saling berkaitan (baca 1 Korintus 12:12). Tuhan tidak pernah memaksudkan kita untuk hidup sendirian, hidup dengan iman pribadi kita masing-masing saja. Kita tidak seperti satu tas kelereng, tetapi kita seperti setandan anggur yang sari buahnya bercampur pada waktu mendapat tekanan.

Berhati-hatilah agar tidak menjadi orang Kristen yang hidup menyendiri. Bagikanlah iman Anda tentang kesetiaan Tuhan. Kesaksian Anda dapat menolong orang lain bertumbuh dalam iman. Jika Anda mengalami keraguan atau ketakutan, buanglah kesombongan atau rasa malu Anda, dan carilah bantuan dari orang percaya yang kuat. Saling memberkati akan terjadi ketika kita menjangkau satu sama lain