Ayub 1:6-22, 2:1-10
Bayangkan bagaimana rasanya berada dalam situasi Ayub. Pasukan serdadu, api, dan angin menyapu bersih kekayaannya dan membunuh anak-anaknya. Kemudian, tubuhnya dipenuhi bisul bernanah sampai ia menggaruk kulit yang radang itu dengan pecahan beling. Jika Ayub tidak percaya pada kesetiaan Tuhan, ia mungkin sudah menuruti nasihat istrinya untuk langsung “mengutuki Tuhan dan mati” (Ayub 2:9).
Ayub direndahkan, dan ia tidak tahu mengapa— ia juga tidak pernah tahu apa alasannya. Berkat Kitab Suci, kita mengetahui percakapan rahasia antara Tuhan dan Iblis, tetapi Tuhan tidak membagikan keterangan itu kepada Ayub. Dibiarkan dalam gelap, Ayub harus memutuskan apakah keyakinannya akan kesetiaan Tuhan tetap bertahan.
Ayub memutuskan tetap percaya Tuhan di tengah tragedi itu (Ayub 42:2). Ia bisa saja mengutuki Tuhan, seperti saran istrinya. Atau mendengarkan nasihat sahabat-sahabatnya dan menyiksa pikirannya dengan dosa tertentu yang tidak diakui. Tetapi semua tindakan itu tidak ada gunanya. Sebaliknya, Ayub memilih untuk memandang segala sesuatu sebagai bagian dari rencana ilahi, dan mengakui hak Tuhan untuk melakukan apa pun yang Dia mau bagi kemuliaan nama-Nya (Ayub 1:21).
Menerima kebaikan yang Tuhan berikan dalam hidup kita itu mudah. Yang sulit adalah menerima tragedi dengan sikap yang rela dan hati yang dapat diajar. Kesempatan tidak termasuk dalam persamaan itu—tidak ada sesuatu hal yang dapat terjadi dalam hidup kita tanpa seizin Tuhan.